Hanya 45 Persen Warga AS yang Puas dengan Pekerjaannya – Meski banyak warga Amerika Serikat yang beruntung tetap bekerja sepanjang krisis ekonomi menghantam negara itu tahun lalu, survei menunjukkan hasil berbeda. Grup peneliti yang tergabung dalam Conference Board menunjukkan data, 45 persen warga AS tidak puas dengan pekerjaan mereka. Angka ini adalah terendah sejak 22 tahun lalu, saat lembaga ini secara rutin melakukan survei yang sama.
Menurut mereka, angka ini hampir sama dengan data yang ditunjukkan saat resesi melanda dunia tahun 1930. Namun dua dekade berikutnya, angka dengan cepat berubah.
"Ini bukan soal ketersediaan pekerjaan di Amerika Serikat. Juga bukan tentang siklus bisnis atau satu generasi pemarah," ujar Linda Barrington, managing director sumber daya manusia pada Conference Board.
Menurutnya, ketidakpuasan seseorang pada pekerjaan disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak merasa menjadi "orang yang dibutuhkan" dalam pekerjaannya, pendapatan yang yang sebanding dengan inflasi, dan asuransi kesehatan yang "memakan" sebagian besar pendapatan mereka.
"Bila ketidakpuasan terhadap pekerjaan ini dibiarkan, maka akan sangat membahayakan Amerika dari sisi kekompetitifan dan produktivitas," ujarnya. Ketidakpuasan bagi pekerja senior, katanya, juga berakibat pada terhambatnya proses transformasi pengetahuan dan keahlian dari mereka kepada yuniornya.
Tahun 1987 Conference Board melakukan survei pertama. Hasilnya, 61 percen pekerja menyatakan bahagia dengan pekerjaannya. Dari angka itu, 70 persen menyatakan sangat tertarik dengan pekerjaan yang digelutinya, bandingkan dengan angka sekarang yang hanya 50 persen saja mengaku tertantang dengan pekerjaaan yang digelutinya.
"Pekerja yang tertarik dan tertantang dengan pekerjaaan yang ditekuninya akan membuat mereka lebih inovatif dan memperhitungkan segala sestaunya dengan cermat, hal yang sangat produktif bagi produktivitasnya dan menjadi sebuah nilai kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian negara," tambah Barrington. ( ap/tri )
Menurut mereka, angka ini hampir sama dengan data yang ditunjukkan saat resesi melanda dunia tahun 1930. Namun dua dekade berikutnya, angka dengan cepat berubah.
"Ini bukan soal ketersediaan pekerjaan di Amerika Serikat. Juga bukan tentang siklus bisnis atau satu generasi pemarah," ujar Linda Barrington, managing director sumber daya manusia pada Conference Board.
Menurutnya, ketidakpuasan seseorang pada pekerjaan disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak merasa menjadi "orang yang dibutuhkan" dalam pekerjaannya, pendapatan yang yang sebanding dengan inflasi, dan asuransi kesehatan yang "memakan" sebagian besar pendapatan mereka.
"Bila ketidakpuasan terhadap pekerjaan ini dibiarkan, maka akan sangat membahayakan Amerika dari sisi kekompetitifan dan produktivitas," ujarnya. Ketidakpuasan bagi pekerja senior, katanya, juga berakibat pada terhambatnya proses transformasi pengetahuan dan keahlian dari mereka kepada yuniornya.
Tahun 1987 Conference Board melakukan survei pertama. Hasilnya, 61 percen pekerja menyatakan bahagia dengan pekerjaannya. Dari angka itu, 70 persen menyatakan sangat tertarik dengan pekerjaan yang digelutinya, bandingkan dengan angka sekarang yang hanya 50 persen saja mengaku tertantang dengan pekerjaaan yang digelutinya.
"Pekerja yang tertarik dan tertantang dengan pekerjaaan yang ditekuninya akan membuat mereka lebih inovatif dan memperhitungkan segala sestaunya dengan cermat, hal yang sangat produktif bagi produktivitasnya dan menjadi sebuah nilai kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian negara," tambah Barrington. ( ap/tri )
loading...
No comments:
Post a Comment