Survei itu melibatkan 3.957 responden yang terdiri dari 2.016 laki-laki dan 1.941 perempuan yang aktif secara seksual. Usia mereka 25-74 tahun, dengan syarat telah melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya setidaknya dalam 12 bulan terakhir. Pelaksana survei ini Harris Interactive, perusahaan riset independen dengan sponsor utama Pfizer Global Pharmaceuticals.
Ilustrasi/wordpress.com
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan begitu banyak laki-laki dan perempuan di kawasan Asia Pasifik itu mengalami ketidakpuasan seksual? Jawabannya tak lain berkaitan dengan performa seksual yang tidak optimal dari pasangannya. Lebih khusus lagi dalam hal ini adalah ketidakmampuan laki-laki untuk mencapai kekerasan ereksi maksimal dan mempertahankannya selama hubungan seksual.
Menurut Prof dr Wimpie Pangkahila, androlog dan seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, sebanyak 15-20 persen laki-laki mengalami masalah disfungsi ereksi (DE) dalam satu periode hidupnya. Sebagian besar masalah itu disebabkan oleh faktor fisik, sebagai akibat dari menjalankan gaya hidup yang salah.
"Sekarang banyak anak usia 20-an mengalami DE karena pola hidupnya nggak bener, merokok, alkohol, pakai obat-obatan sembarangan, kurang olahraga, dan kegemukan," ujar Wimpie, saat memberikan penjelasan pers di Hotel Akmani, Selasa (8/12).
Gaya hidup yang salah itu juga berpengaruh kepada makin awalnya kemunculan penyakit-penyakit degeneratif, seperti kolesterol yang tinggi, diabetes, hipertensi, serta penyakit pembuluh darah dan jantung koroner. Padahal kehadiran penyakit-penyakit kronik tersebut meningkatkan faktor risiko munculnya DE.
"Pada mereka yang merokok, risiko mengalami DE 50 persen, dan jika mengalami diabetes risikonya lebih tinggi lagi mengalami DE, yaitu 80 persen," ujar Wimpie.
Bisa diatasi
Kabar baiknya, masalah DE sebenarnya bisa diatasi melalui pengobatan yang tepat, dengan melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu kepada dokter spesialis andrologi atau urolog. Pasalnya, 80-90 persen DE biasanya disebabkan oleh problem fisik yang berasal dari penyakit. "Jadi harus dicari tahu dulu apa masalahnya, setelah itu ditangani, barulah kita beri pengobatan untuk mengatasi DE," ujar Wimpie.
Sayangnya, sebagian besar laki-laki enggan mengakui DE sebagai masalah. Alih-alih berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, kebanyakan orang lebih memilih mencoba-coba mengobati diri sendiri. Bentuknya macam-macam, mulai dari membeli obat-obatan herbal, sampai obat yang dijual di kios pinggir jalan.
"Berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan, tidak ada obat herbal murni yang benar-benar bisa mengobati DE. Hampir pasti itu sudah dicampur dengan bahan kimia sildenafil sitrat, bahan yang dipakai untuk membuat Viagra," ujar Wimpie.
Masalahnya, tidak ada yang tahu berapa kadar zat kimia yang terdapat dalam obat herbal tersebut dan tingkat keamanannya untuk dikonsumsi secara bebas. Hal itu tentu berbeda dari obat yang diberikan melalui resep dokter, yang dosisnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
Andini Suhardi, Marketing Manager Pfizer Indonesia mengatakan, tidak semua masalah gangguan seksual dapat diselesaikan dengan obat-obatan. Masalahnya ada sekitar 20 persen faktor penyebab gangguan itu berasal dari masalah psikis (kejiwaan).
"Kalau masalahnya kejiwaan, depresi, atau yang lainnya, tentu tidak selesai hanya dengan mengonsumsi Viagra sesuai resep dokter. Harus ada penanganan tersendiri dulu untuk mengatasi masalah depresinya," ujar Andini.
Menurut Wimpie, di luar problem fisik dan psikis, peran komunikasi yang baik dan sikap saling terbuka di antara pasangan juga memegang peran penting dalam mengatasi masalah yang terkait hubungan seksual. Harus ada saling pengertian mengenai kebutuhan masing-masing pasangan.
"Bukankah tujuan akhir dari setiap hubungan seksual adalah tercapainya kepuasan kedua belah pihak?" ujarnya.
Apa yang Boleh dan Tidak Boleh?
1. Sarapan yang benar adalah cukup kandungan protein dan serat.
Paduan ini memungkinkan pencernaan tidak terlalu penuh, namun Anda punya energi yang cukup sepanjang pagi. Jangan sarapan dengan kandungan karbohidrat terlalu banyak, karena akan membuat kadar gula darah Anda meningkat drastis. Hal itu justru bikin Anda makin mengantuk di pagi hari.
Saran: Sarapan dengan roti gandum murni dilapisi selai kacang, plus yoghurt dan buah beri segar.
2. Minum air yang cukup.
Tubuh dengan kandungan cairan yang cukup akan mempertahankan ketajaman mental dan fisik sepanjang hari, dan akan sangat membantu Anda bertahan hingga malam hari.
Secangkir kopi atau teh di pagi hari memang menyegarkan, tapi jangan lakukan itu sepanjang hari. Terlalu banyak kafein akan membuat Anda sulit memejamkan mata di malam hari.
Saran: Minumlah dua gelas air saat bangun tidur pagi, itulah saat tubuh paling membutuhkan asupan cairan. Baik juga mengonsumsi makanan yang mengandung banyak air, seperti buah-buahan dan sup.
3. Perbanyak sayuran, minyak zaitun, kacang-kacangan.
Lemak itu penting untuk memproduksi hormon seks, yaitu testosteron dan estrogen. Diet yang terlalu rendah lemak akan membuat Anda kekurangan hormon penting itu. Meski begitu, jangan lantas gila-gilaan menghajar makanan serbalemak.
Saran: Asupan lemak sehat banyak terdapat di minyak zaitun, ikan, dan kacang-kacangan.
4. Jangan makan besar sebelum pergi tidur.
Jika Anda pergi tidur dalam keadaan perut terlalu kenyang, niscaya Anda akan kehilangan hasrat untuk melakukan hal-hal romantis di ranjang. Tapi jangan sampai kelaparan juga.
Saran: Makan secukupnya saja.
Mitos 1: Kesulitan ereksi akibat hilangnya ketertarikan seks, tenaga, atau mandul.
Kenyataannya, sebagian laki-laki dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapatkan orgasme. Kesulitan ereksi tidak berhubungan dengan kekuatan, kejantanan, atau kemandulan seorang laki-laki.
Mitos 2: Laki-laki selalu ingin dan selalu siap melakukan hubungan seksual.
Kenyataannya, tidak sesederhana itu tampaknya. Kelelahan fisik dan mental terkait pekerjaan dan masalah keluarga bisa memengaruhi gairah dan kegiatan seksual. Berada dalam kerangka pikir yang tepat sangat penting dalam stimulasi respons seksual.
Mitos 3: Pria sejati tidak mengalami kesulitan ereksi.
Kenyataannya, banyak pria dalam satu waktu dari periode hidupnya akan mengalami kesulitan ereksi atau mempertahankan ereksi tersebut. Hal itu muncul seiring usia, perilaku budaya dan kebiasaan hidupnya.
Mitos 4: Kesulitan ereksi adalah masalah pribadi
Kenyataannya, disfungsi ereksi sesungguhnya terjadi pada siapa pun. Menurut American Medical Association, 10 persen laki-laki mengalami gangguan ereksi yang menetap, dan sebagian lagi mengalami gangguan ereksi tingkat ringan.
Mitos 5: Disfungsi Ereksi sesuatu yang wajar sebagai bagian dari proses penuaan.
Kenyataannya, sekalipun DE kerap terjadi pada laki-laki usia tua dibandingkan yang muda, bukan berarti DE merupakan proses penuaan. Perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, berolahraga teratur, dan mengendalikan penyakit kronik dapat menurunkan risiko DE.
Mitos 7: DE merupakan problem fisik semata.
Kenyataannya, DE sangat kompleks karena kerap kali melibatkan gangguan kognitif, perilaku, emosi, sosial, dan fisik.
Mitos 8: Kesulitan Ereksi akan berlalu.
Kenyataannya, DE memerlukan penanganan medis melalui pengobatan yang tepat. Jika dibiarkan, DE akan menimbulkan konsekuensi psikologis termasuk rasa malu, kehilangan kepercayaan diri atau minder.
Mitos 9: Disfungsi Ereksi hanya berpengaruh pada laki-laki.
Kenyataannya, DE yang tidak diatasi akan berpengaruh pada pasangan, karena merasa tidak terpuaskan secara seksual. Dalam jangka panjang, pasangan akan merasa tidak dicintai, tidak diinginkan, dan tidak lagi menarik.
Makan Seimbang, Bukan Cula Badak
Lupakan kerang dan bubuk cula badak. Belum ada bukti ilmiah kedua makanan itu benar-benar bisa mendongkrak performa seks. Jangan-jangan sebenarnya Anda sudah mengonsumsi mineral dan vitamin yang bisa memperbaiki kehidupan seksual, hanya saja takarannya yang mungkin kurang pas.
No comments:
Post a Comment